default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Pelestarian Cagar Budaya Untuk Siapa?

Pelestarian Cagar Budaya Untuk Siapa?
Suara Pembaca
Pihak berwenang ketika meninjau salah satu situs cagar budaya di Kabupaten Situbondo.
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh: Irwan Rakhday

(Pemerhati cagar budaya, tinggal di Situbondo)

Cagar Budaya  merupakan aset tak ternilai bagi bangsa yang wajib dilestarikan. Memperlakukan cagar budaya terutama bagi para pengelola atau pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan cagar budaya harus tepat. Bentuk pengelolaan cagar budaya yang bukan hanya berdampak pada lestarinya cagar budaya, tetapi juga memberikan manfaat berupa kesejahteraan bagi masyarakat. Oleh karena itu, setiap rancangan pengelolaan cagar budaya diharapkan memberikan ruang sekaligus peluang yang besar bagi masyarakat untuk terlibat secara aktif.

DI dalam Undang-Undang Cagar Budaya No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, dengan tegas menyatakan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan cagar budaya harus lebih ditingkatkan.

 Paradigma pengelolaan cagar budaya tak lagi hanya ditujukan untuk kepentingan akademik semata, tetapi harus meliputi kepentingan idiologik dan juga ekonomik. Oleh karena itu, untuk mencapai ketiga kepentingan tersebut, diperlukan sinergitas antara pemerintah, akademisi, masyarakat dan sektor swasta.


Pelestarian dalam konteks cagar budaya, dapat dimaknai sebagai upaya pengelolaan sumber daya budaya yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana, serta menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.

Hakekat dari pelestarian cagar budaya adalah suatu kegiatan berkesinambungan (sustainable activity) yang dilakukan secara terus-menerus dengan perencanaan yang matang dan sistematis, sehingga kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat yang merupakan pemilik sah  cagar budaya.

Hal lain yang perlu dipahami adalah, bahwa pelestarian cagar budaya tidak hanya terkait dengan objek dari cagar budayanya saja, tetapi juga meliputi aspek-aspek lain baik yang terkait langsung maupun tidak langsung.

Berdasarkan pada kenyataan, cagar budaya itu tidaklah berdiri sendiri. Secara arkeologis, jelas terlihat bahwa setiap cagar budaya  terikat dengan konteksnya , lingkungan maupun budaya secara umum. Oleh karena itu, pelestarian cagar budaya tentunya harus mencakup pelestarian konteks cagar budaya itu sendiri termasuk lingkungan. 

Gagasan ini pun telah diterapkan oleh sebagian besar negara, bahkan UNESCO dalam hal ini merumuskannya dalam konsep Natural Heritage Landscape, yang memosisikan cagar budaya sebagai satu kesatuan dengan bentang alam dan bentang budaya. Artinya, pelestarian cagar budaya tak dapat lagi dilepaskan dari pelestarian lingkungan atau alam.

Lebih dari itu,  pelestarian merupakan upaya agar suatu karya budaya baik yang berupa gagasan, tindakan atau perilaku, maupun budaya bendawi tetap berada dalam sistem budaya yang masih berlaku dalam konteks kekinian. 

Seringkali, karya atau warisan budaya yang hendak dilestarikan pernah terbengkalai atau ditinggalkan. Namun kemudian ditemukan kembali. Selanjutnya, karena nilai-nilai karya budaya itu dianggap penting, maka karya budaya itu dimasukkan kembali dalam sistem budaya yang berlaku saat ini dengan tujuan untuk membangkitkan spirit, semangat dan kebanggaan masyarakat masa kini, atau juga sebagai tujuan wisata. 

Dengan demikian, pelestarian pada dasarnya tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Implikasi dari kegiatan pelestarian yang sifatnya dinamis ini adalah adanya peluang perubahan, dan hal inilah yang harus terkendali. Pelestarian yang terkendali menjadi syarat mutlak agar nilai-nilai yang terkandung dalam cagar budaya  tetap lestari. Selain itu, kegiatan pelestarian cagar budaya dapat berjalan searah dan bahkan dapat saling mendukung dengan kegiatan pembangunan. 

Apabila perencanaan pelestarian dan pengembangan di area yang mengandung ODCB (Objek Diduga Cagar Budaya) dapat dilakukan secara terpadu dan terkoordinasikan, ini adalah sebuah situasi sinergis. Bahkan, pembangunan dan pengembangan area dapat menjadi faktor pendukung penyajian dan pelestarian nilai-nilai penting dari cagar budaya yang ada di sekitarnya.

Sehubungan dengan hal itu, maka kajian nilai penting merupakan bagian tak terpisahkan dalam setiap upaya pelestarian. Kajian ini harus menemukan dan menentukan nilai penting apa saja yang dikandung oleh cagar budaya yang hendak dilestarikan. Hasil kajian nilai penting akan menentukan apakah suatu karya budaya harus dilestarikan dan bagaimana cara-cara pelestariannya.

 Dengan mengetahui nilai penting yang ada, dapat ditentukan kebijakan pelestarian yang dapat diterapkan terhadap karya budaya yang dimaksud.Perlu dipahami pula bahwa pelestarian tidak hanya berorientasi masa lampau. Sebaliknya, pelestarian harus berwawasan ke masa kini dan masa depan, karena nilai-nilai penting itu sendiri diperuntukkan bagi kepentingan masa kini dan masa depan.

 Mengacu pada aspek pemanfaatan cagar budaya, tujuan pelestarian dapat diarahkan untuk mencapai nilai manfaat (use value), nilai pilihan (optional value), dan nilai keberadaan (existence value).

 Dalam hal ini, nilai manfaat lebih ditujukan untuk pemanfaatan cagar budaya pada saat ini, baik untuk ilmu pengetahuan, sejarah, agama, jatidiri, kebudayaan, maupun ekonomi melalui pariwisata yang keuntungannya (benefit) dapat dirasakan oleh generasi saat ini.

Perlu dipahami bahwa manfaat ekonomi bukanlah menjadi tujuan utama dalam pemanfaatan cagar budaya sebagai objek wisata, tapi merupakan dampak positif dari keberhasilan pemanfaatan cagar budaya dalam pariwisata.

Adapun nilai pilihan, mengasumsikan cagar budaya sebagai simpanan untuk generasi mendatang, sehingga cagar budaya dilestarikan demi generasi mendatang. 


Karena itu, pilihan pemanfaatannya diserahkan kepada generasi mendatang dan generasi saat ini. Tugasnya, menjaga stabilitasnya agar cagar budaya tidak akan mengalami perubahan sama sekali. Sedangkan nilai keberadaan lebih mengutamakan pelestarian yang tujuannya untuk memastikan bahwa karya budaya akan dapat bertahan (survive) atau tetap ada (exist), walaupun tak merasakan manfaatnya.

 Ada kerangka berpikir pelestarian cagar budaya bertumpu pada dua aspek utama. Pertama, pelestarian terhadap nilai budaya dari masa lampau, nilai penting yang ada saat ini, maupun nilai penting potensial untuk masa mendatang. Kedua, pelestarian terhadap bukti bendawi yang mampu menjamin agar nilai-nilai penting masa lampau, masa kini, maupun masa mendatang dapat diapresiasi oleh masyarakat. 

Pada akhirnya,  hakekat yang harus dipahami bahwa pelestarian cagar budaya  berorientasi pada kepentingan cagar budaya yang berdampak positif pada masyarakat.

Oleh karena itu, pelibatan masyarakat dalam pelestarian cagar budaya diharapkan dapat memberikan manfaat positif pada kelestarian cagar budaya itu sendiri.
Jadi jelaslah, pelestarian cagar budaya untuk siapa.(*)


Kontributor : Irwan Rakhday
Editor : Imam Hairon
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar